Di tengah kajian aqidah, ada satu konsep yang sering dianggap final dan tidak bisa diperdebatkan:
pembagian tauhid menjadi tiga—Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma wa Shifat.
Namun, benarkah pembagian ini merupakan ajaran murni dari Rasulullah ﷺ dan para ulama salaf?
Melalui buku “Mengungkap Kerancuan Pembagian Tauhid”, Dr. H. Kholilurrohman, MA mengajak pembaca untuk mengkaji ulang konsep tersebut secara kritis, ilmiah, dan berbasis referensi klasik.
Apakah Pembagian Tauhid Tiga Itu Ajaran Salaf?
Buku ini mengungkap fakta penting bahwa:
Pembagian tauhid menjadi tiga bagian pertama kali dipopulerkan oleh Ibnu Taimiyah, bukan dari generasi ulama sebelumnya. (Google Books)
Artinya, konsep ini bukan sesuatu yang disepakati sejak awal dalam tradisi Islam.
Penulis kemudian mengajak pembaca untuk bertanya:
- Mengapa pembagian ini muncul?
- Apa latar belakangnya?
- Dan bagaimana dampaknya terhadap pemahaman umat?
Dampak Besar dari Sebuah Pembagian
Sekilas terlihat sederhana, namun buku ini menunjukkan bahwa pembagian tauhid tersebut memiliki implikasi besar, di antaranya:
- Munculnya pengkafiran terhadap sesama Muslim
- Tuduhan syirik terhadap praktik seperti tawassul dan tabarruk
- Penyempitan makna tauhid hanya pada aspek tertentu
Dalam beberapa pandangan, orang yang tidak memahami “tauhid uluhiyyah” dianggap belum bertauhid secara sempurna, meskipun sudah mengakui Allah sebagai Pencipta. (Google Books)
Mengkritisi Cara Memahami Dalil
Buku ini tidak hanya membahas konsep, tetapi juga mengkritisi metode berpikir:
- Pemahaman literal tanpa konteks
- Penolakan terhadap takwil secara mutlak
- Penarikan kesimpulan tanpa melihat pendapat ulama lain
Padahal dalam tradisi Ahlussunnah, memahami ayat dan hadits membutuhkan:
- Ilmu alat
- Rujukan ulama
- Metode yang benar
Kembali ke Tauhid yang Utuh
Penulis menegaskan bahwa tauhid dalam Islam bukanlah sekadar pembagian istilah, tetapi:
- Keyakinan yang menyeluruh tentang Allah
- Tidak terpecah dalam kategori-kategori yang membingungkan
- Dipahami sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat
Dengan pendekatan ini, pembaca diajak kembali kepada tauhid yang lebih utuh dan tidak terjebak dalam penyederhanaan yang berpotensi menyesatkan.
Buku yang Membuka Cara Berpikir
Lebih dari sekadar kritik, buku ini memberikan:
- Perspektif baru dalam memahami tauhid
- Landasan ilmiah dari ulama klasik
- Cara berpikir yang lebih hati-hati dalam beragama
Ini bukan buku untuk mencari pembenaran, tetapi untuk mencari kebenaran.
Bahasa Tegas, Argumentasi Kuat
Ditulis dengan gaya:
- Tegas dan berani
- Argumentatif namun tetap ilmiah
- Mudah dipahami oleh berbagai kalangan
Buku ini cocok untuk:
- Santri dan mahasiswa
- Pengajar dan dai
- Siapa saja yang ingin memahami aqidah secara mendalam
📚 Kenapa Buku Ini Penting Anda Miliki?
- ✔ Mengkaji ulang konsep tauhid yang populer
- ✔ Berdasarkan referensi klasik dan analisis ilmiah
- ✔ Meluruskan kesalahpahaman dalam aqidah
- ✔ Relevan dengan perdebatan umat saat ini
🛒 Dapatkan Sekarang Juga
Jangan hanya menerima—mulailah memahami.
Pelajari aqidah dari berbagai sudut pandang yang ilmiah.
👉 Pesan sekarang di Shopee:
🔗 https://shopee.co.id/maktabahmanaratulquran
✨ Tauhid Bukan Sekadar Istilah, Tapi Keyakinan
Tauhid adalah inti dari Islam.
Memahaminya dengan benar adalah kewajiban.
Buku ini membantu Anda melihat lebih dalam—bukan sekadar apa yang diajarkan, tapi mengapa itu diajarkan.

