Terjemahan Al-Qur’an menjadi rujukan utama bagi banyak umat Islam dalam memahami ayat-ayat Allah. Namun, bagaimana jika sebuah terjemahan justru berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dalam aqidah?
Buku “Meluruskan Kekeliruan Terjemah Al-Qur’an Kemenag RI dan Tafsirnya tentang Istiwa Allah” karya Kholil Abou Fateh hadir sebagai kajian kritis yang berani, ilmiah, dan mendalam terhadap salah satu isu penting dalam tafsir: makna istiwa Allah.
Dengan tebal 181 halaman, buku ini menjadi referensi penting bagi siapa saja yang ingin memahami ayat-ayat mutasyabihat secara benar dan sesuai dengan manhaj ulama Ahlussunnah.
Mengapa Pembahasan Istiwa Penting?
Ayat-ayat tentang istiwa (seperti “Ar-Rahman ‘ala al-‘Arsy istawa”) sering menjadi titik perbedaan dalam memahami sifat Allah.
Sebagian memahami secara tekstual, sementara ulama Ahlussunnah memiliki pendekatan yang lebih hati-hati:
- Tidak menyerupakan Allah dengan makhluk
- Tidak menetapkan tempat atau arah bagi Allah
- Menggunakan metode tafwidh atau takwil sesuai kaidah
Buku ini menegaskan bahwa kesalahan dalam memahami ayat seperti ini dapat berdampak langsung pada aqidah.
Kritik terhadap Terjemahan dan Tafsir Resmi
Salah satu fokus utama buku ini adalah mengkaji:
- Terjemahan resmi Al-Qur’an oleh Kementerian Agama RI
- Penjelasan tafsir yang menyertainya
Penulis menunjukkan bahwa:
- Beberapa terjemahan berpotensi dipahami secara literal
- Dapat menimbulkan kesan bahwa Allah berada di tempat tertentu
- Perlu diluruskan agar tidak bertentangan dengan prinsip aqidah
Kajian ini dilakukan secara sistematis, bukan sekadar opini.
Pendekatan Ilmiah dan Argumentatif
Buku ini tidak hanya mengkritik, tetapi juga memberikan solusi dengan:
- Menyajikan penafsiran ulama klasik
- Mengutip dalil Al-Qur’an dan hadits
- Menjelaskan metode Ahlussunnah dalam memahami ayat mutasyabihat
Pendekatan ini menjadikan buku ini sebagai:
- Kritik yang membangun
- Rujukan ilmiah
- Panduan memahami ayat secara benar
Menjaga Prinsip Tanzih
Salah satu pesan utama buku ini adalah pentingnya menjaga prinsip:
Mensucikan Allah dari penyerupaan dengan makhluk (tanzih).
Karena itu:
- Allah tidak bertempat
- Allah tidak dibatasi arah
- Allah tidak menyerupai makhluk dalam bentuk apa pun
Pemahaman ini menjadi fondasi dalam menafsirkan ayat-ayat seperti istiwa.
Relevansi di Era Modern
Di era digital, terjemahan Al-Qur’an sering menjadi satu-satunya rujukan bagi banyak orang.
Tanpa pemahaman yang benar, hal ini bisa menimbulkan:
- Kesalahan aqidah
- Pemahaman yang dangkal
- Perdebatan tanpa dasar
Buku ini hadir sebagai penyeimbang, agar umat tidak hanya membaca—tetapi juga memahami dengan benar.
Bahasa Tegas, Struktur Sistematis
Ditulis dengan gaya:
- Tegas dan berani
- Argumentatif
- Mudah diikuti
Buku ini cocok untuk:
- Santri dan mahasiswa
- Pengajar dan dai
- Pembaca yang ingin mendalami tafsir aqidah
📚 Kenapa Buku Ini Penting Anda Miliki?
- ✔ Mengkaji terjemahan Al-Qur’an secara kritis
- ✔ Fokus pada isu penting: makna istiwa
- ✔ Berdasarkan dalil dan pendapat ulama
- ✔ Relevan dengan kebutuhan umat saat ini
🛒 Dapatkan Sekarang Juga
Jangan hanya membaca terjemahan—pahami maknanya dengan benar.
Perkuat aqidah Anda dengan referensi yang ilmiah.
👉 Pesan sekarang di Shopee:
🔗 https://shopee.co.id/maktabahmanaratulquran
✨ Memahami Al-Qur’an Butuh Ilmu
Terjemahan membantu membaca.
Tapi ilmu membantu memahami.
Dan buku ini membantu Anda memahami dengan benar.

