Penjelasan ‘Aqidah Thahawiyyah Untaian Mutiara Aqidah Mengulas Berbagai Sisi Kebenaran, Ketegasan dan Kemoderatan Ahlusunnah wal Jama’ah

Kata Pengantar

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى ءاله وصحبه أجمعين أما بعد:

Kali pertama al faqir mengenal kitab al ’Aqidah ath Thahawiyyah di latar belakangi membaca kitab al Kawakib al Lamma’ah fi Tahqiq al Musamma bi Ahlisunnah wal Jama’ah karya Syaikh Abu al Fadll (w. 1410 H/1989 R) r Senori, Tuban, Jawa Timur yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Fadlol. Sesuai dengan namanya, kitab tersebut didedikasikan penulisnya untuk menjelaskan siapakah Ahlusunnah wal Jama’ah yang sebenarnya (al musamma).

Dalam kitab tersebut Mbah Fadlol mengutip ungkapan Tajuddin as Subki (w. 771 H) r:

”Saya mendengar dari al Imam; ulama panutan, ayah saya sendiri, Taqiyyuddin as Subki (w. 756 H) r – berkata:

Apa yang menjadi kandungan kitab ’Aqidah Thahawiyyah sama dengan apa yang diyakini oleh Abu al Hasan al Asy’ari. Keduanya tidak berbeda kecuali dalam tiga masalah akidah – yang tidak bersifat pokok; cabang akidah –.’[1]

            Al faqir baru kali pertama menjumpai dan membeli kitab ’Aqidah Thahawiyyah ini sekaligus hall alfadhnya di salah satu toko di Pondok Pesantren MUS (Ma’had al ’Ulum asy Syar’iyyah), Karangmangu, Sarang, Rembang, Jateng yang disampulnya catat tanggal pembelian-nya, 21 Juni tahun 2005 R dengan harga Rp. 13. 500,-.

Penulis semakin jatuh cinta dengan kitab ath Thahawiyyah ini setelah menyimak ungkapan langsung Tajuddin as Subki r sendiri, dalam kitabnya Mu’idu al Ni’am wa Mubid al Niqam menyatakan:

Secara umum akidah Ahlussunnah yang diajarkan al Imam al Asy’ari adalah yang menjadi kandungan kitab ’Aqidah Abu Ja’far ath Thahawi, di mana kitab ’Aqidah Thahawiyyah telah dipelajari dan diterima dengan baik oleh para ulama madzhab dan mereka meridlai-nya – sebagai pedoman bagi umat Islam –. Dan aku (Tajuddin as Subki) memungkasi tulisan kitabku Jam’ al Jawami’ dengan mengakomodir kitab-kitab yang substansinya menjadi pedoman ulama Ahlusunnah dari kalangan salaf. Kitab-kitab itu adalah ’Aqidah Thahawiyyah, kitab ’Aqidah – tulisan Abi al Qasim al Qusyairi dan ’Aqidah Mursyidah yang ketiganya sama dari segi substansi dan saling melengkapi dalam menjelaskan pokok-pokok akidah.”[2]

            Pernyataan para ulama itu lah yang semakin memotivasi al faqir untuk menulis catatan-catatan (ta’liqat) penjelasan kitab Thahawiyyah yang penulis dapatkan dari para guru dari berbagai kitab rujukan utama Ahlusunnah baik dari kalangan ulama salaf dan khalaf, primer atau sekunder, dari ulama Nusantara maupun luar negeri. Dan dituangkan dalam buku yang sederhana ini.

Sebagai santri di kampung yang sejak dini telah ditanamkan oleh para guru dan kyai bahwasannya Ahlussunnah adalah Asy’a-riyyah dan Maturidiyyah, saya menemukan kitab ’Aqidah Thahawiyyah ini sebagai salah satu kitab penting untuk diperkenalkan pada khalayak umum utamanya para santri sebagai penerus ulama Ahlusunnah.

Ada beberapa beberapa kitab yang mensyarahi kitab al ’Aqidah al Thahawiyyah, di antaranya:

  1. Syarah – susunan – Isma’il bin Ibrahim bin Ahmad asy Syaybani (w. 629 H.)
  2. Al Nur al Lami’ wal Burhan al Sathi’, karya al Muhaddits Najmuddin Mankubars bin Yalnaqlanj bin Abdullah (w. 752 H.) Turki
  3. Syarah – susunan – Hibatillah bin Ahmad bin Ma’la (w. 732 H.) Turkistan
  4. Al Qala-id fi Syarh al ’Aqa-id susunan Mahmud bin Ahmad bin Mas’ud al Qunawi (w. 771 H)
  5. Syarah al Qadli Sirajuddin ’Umar bin Ishaq (w. 773 H.) India
  6. Syarah Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al Babarti (w. 786 H)
  7. Syarah al ’Aqa-id al Thahawiyyah susunan Muhammad bin Abi Bakr al Ghazzi ( 881 H.)
  8. Syarah al Mawla Mahmud bin Ahmad bin Abi Ishaq al Qusthan-thini yang disempurkannya pada tahun 916 H.
  9. Syarah ’Aqa-id al Thahawi susunan ’Abdurrahim bi ’Ali al Amasi ar Rumi (w. 944 H.)
  10. Nur al Yaqin fi Ushuliddin susunan al Mawla Kafi Hasan Afandi al Aqhashari (w. 1025 H)
  11. Syarah al ’Aqidah al Thahawiyyah susunan Syaikh ’Abdul Ghani al Ghanimi (w. 1297 H.)
  12. Idh-har al ’Aqidah al Thahawiyyah
  13. Al Durrah al Bahiyyah keduanya susunan al Hafidh al ’Abdari
  14. Al Ta’liqat al Sunniyyah susunan Syaikh Jabir murid Syaikh Yasin al Fadani
  15. Hasyiyah al Kaifuni
  16. Mukhtashar Idh-har al ’Aqidah al Suniyyah
  17. Al Mukhtashar al Wafi ketiganya susunan Syaikh Dr. Samir al Qadli
  18. Syarah al ’Aqidah ath Thahawiyyah susunan Syaikh Prof. Dr. Thariq al Lahham
  19. Al Ifadat al Mardliyyah, karya Syaikh Dr. Nabil asy Syarif al Azhari

Namun, sekitar tahun 2010 al faqir menemukan berbagai kejanggalan ketika membaca kitab yang mensyarahi ’Aqidah Thahawiyyah karangan Ibnu Abi al ’Izz. Siapapun yang tidak jeli dan belum cukup mengetahui dengan baik ajaran-ajaran Ahlusunnah dan yang bertentangan dengannya sekaligus bantahan Ahlusunnah terhadap kelompok-kelompok yang menyimpang, sangat mungkin akan tertarik dengan kitab ini. Karena di sampulnya terdapat ungkapan Tajuddin as Subki yang merupakan ulama Ahlusunnah yang memuji ’Aqidah Thahawiyyah; bukan memuji Syarah nya yang merupakan susunan orang yang berpaham tasybih dan tajsim.

            Keyakinan cucu murid Ibnu Taymiyyah itu bertentangan dengan ajaran-ajaran Ahlusunnah. Di antaranya, sebagaimana disebutkan oleh al Hafidh Ibnu Hajar al ’Asqalani, Ibnu Abi al ’Izz mengingkari diperbolehkannya bertawassul dengan Nabi, mencela tentang kemakshuman Nabi.[3]

Syaikh Syuja’ al Din Hibatullah (w. 733 H.) salah satu pensyarah ’Aqidah Thahawiyyah yang bermadzhab Hanafi dalam bidang fiqh dan Maturidiyyah dalam bidang akidah tidak rela jika kitab Ibnu abi al ’Izz ini dijadikan sebagai salah satu syarah ’Aqidah Thahawiyyah.[4]

Sirajuddin al Ghaznawi berkata:[5]

”Ibnu Abi al ’Izz menentang firman Allah لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞ, maka tidak mengherankan jika dia mensyarahi kitab tersebut namun malah menentang pernyataan al Imam Abu Ja’far ath Thahawi. Ibnu Taymiyyah dan para pengikutnya seperti Ibnu Abi al ’Izz tidak berhak menisbatkan diri mereka pada kitab ’Aqidah Thahawiyyah.[6]Karena, di antara Ibnu taymiyyah atau pengikutnya dan al Imam Abu Ja’far ath Thahawi terdapat perbedaan yang substansial dalam banyak ajaran yang bersifat pokok.”

            Menurut Syaikh Abdul Aziz bin Abdul Jabbar al Hadliri, Ibnu Abi al ’Izz memang bermadzhab Hanafi dalam bidang furu’ (fiqh), namun dia adalah Hasyawiyyah dalam bidang ushul (tauhid). Ia menentang akidah al Imam ath Thahawi; menetapkan banyak perkara yang mustahil yang dinafikan oleh al Imam ath Thahawi. Misalnya ia menyatakan bahwa jenis alam ini tidak bermula(qadim), ia meyakini bahwa Allah adalah tempat bagi perkara-perkara yang baharu (; sifat-sifat baru), ia menetapkan batas-batas dan arah bagi Allah dll karena mengikuti Ibnu Taymiyah.[7]

            Menurut al Hafidh Ibnu Hajar al ’Asqalani banyak ulama Mesir yang menentangnya, di antaranya adalah Sa’duddin an Nawawi, Jamaluddin al Kurdi, Syarafuddin al Ghazzi, Zainuddin bin Rajab, Taqiyyuddin bin Muflih dan saudaranya dan Syihabuddin bin Hajj.

            Dari kalangan madzhab Hanafiyah, sekurang-kurangnya ada tiga ulama yang menentang Ibnu Abi al ’Izz. Mereka adalah Mulla ’Ali al Qari (w. 1014 H.), al Imam al Hafidh Murtadla az Zabidi (w. 1205 H.) dan al Muhaddits Zahid al Kawtsari (w. 1371 H.).[8]

            Nah, buku ini hadir menyajikan berbagai sisi kebenaran ajaran-ajaran Ahlusunnah, kemoderatan dan ketegasannya yang didasarkan dalil naqli dan ’aqli yang didedikasikan para ulama salaf maupun khalaf, baik dari Nusantara maupun manca. Di buku ini juga dicantumkan bantahan-bantahan golongan di luar Ahlussunnah wal Jama’ah.

Terlepas dari kekurangan yang ada di buku ini, al faqir telah berikhtiar dengan segenap kemampuan dalam menghimpun dan menjelaskan maqalah para ulama kalangan Ahlussunnah. Dan dengan lapang hati, al faqir berterima kasih jika para pembaca menunjukkan apabila ada kesalahan dalam buku ini untuk diperbaiki.

Brebes, Muharram 1448 H

al Faqir Abdul Haq


[1] Abu al Fadll, al Kawakib al Lamma’ah, hal. 39. Tiga perbedaan itu adalah yang pertama tentang sifat takwin. Maturdiyyah menjadikan sifat takwin sebagai sifat yang tetap bagi Dzat Allah yang azali. Sedangkan menurut Asy’ariyyah takwin bukan sifat yang tetap bagi Dzat Allah. Akan diulas di Mutiara ’Akidah 15. Yang kedua tentang bertambah dan berkurangnya iman. Hanafiyyah-Maturidiyyah menyatakan iman tidak bertambah dan tidak berkurang. Sementara Syafi’iyyah-Asy’ariyyah dapat bertambah dan berkurang. Seperti akan diuraikan di Mutiara ’Akidah 66. Dan yang ketiga tentang pengertian amn dan iyas yang akan dijelaskan di Mutiara ’Aqidah 62.

[2] Tajuddin as Subki, Mu’idu al Ni’am wa Mubid al Niqam, hal. 64.

[3] Al Hafidh Ibnu Hajar al ’Asqalani, Inba’ al Ghumr bi Abna al ’Umr, hal. 97.

[4] Hibatullah al Turkistani, Syarah ath Thahawiyyah, hal. 16-17.

[5] Al Ghaznawi, Syarah ath Thahawiyyah, hal. 183, 184 dan 185.

[6] Baik secara langsung atau tidak, mereka tidak berhak mengaku sebagai bagian dari Ahlusunnah misalnya dengan cara mensyarahi kitab al Aqidah ath Thahawiyyah yang kandungannnya merupakan ajaran-ajaran Ahlusunnah llau di dalamnya disusupi ajaran yang justru bertentangan dengannya.

[7] Abdul Aziz bin Abdul Jabbar al Hadliri, Tanzih al Haq al Ma’bud ’an al Hayyiz wa al Hudud, hal. 52-57.

[8] Kajian mendalam tentang siapa sebenarnya Ibnu Abi al ’Izz al Mujassim dan apa saja penyimpangan yang ada di kitabnya, sebagai referensi silakan merujuk kitab al Burkan al Jarif karya Syaikh Dr. Jamil al Husaini. Kitab yang berhasil membongkar pendapat-pendapat menyimpangnya dan menyingkap berbagai syubhahnya. 

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here